Skip to main content

follow us

Bacaan Do'a dan Dzikir Dalam Shalat

DO’A ISTIFTAH
اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ
“Ya Allah, jauhkan antara diriku dengan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan es”.[2]

Atau membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ
Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Berkah akan nama-Mu, Maha Tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau”.[3]

DO’A RUKU’
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ (3x)
“Maha Suci Rabbku yang Maha Agung”.(Dibaca tiga kali).[4]

Atau membaca:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ
“Engkau adalah Rab Yang Maha Suci (dari kekurangan dan hal yang tidak layak bagi kebesaran-Mu), Maha Agung, Rabb para Malaikat dan Jibril.”[5]

DO’A BANGUN DARI RUKU’
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
“Allah Maha Mendengar pujian orang yang memuji-Nya.”[6]
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
“Wahai Rabb kami, bagi-Mu saja segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah.”[7]

DO’A SUJUD
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى (3x)
“Maha Suci Rabbku, Yang Maha Tinggi (dari segala kekurangan dan hal yang tidak layak). Dibaca tiga kali[8]

Atau membaca:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ
“Engkau adalah Rabb Yang Maha Suci (dari kekurangan dan hal yang tidak layak bagi kebesaran-Mu), Maha Agung, Rabb para malaikat dan Jibril.”[9]

DO’A DUDUK ANTARA DUA SUJUD
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ
“Wahai Rabbku, ampunilah dosaku, wahai Rabbku, ampunilah dosaku.”[10]

Atau membaca:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِي وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ
“Ya Allah, ampunilah dosaku, sayangilah aku, cukupilah kekurangan pada diriku, angkatlah derajatku, tunjukilah aku, selamatkan aku, berilah aku rezki (yang halal).”[11]

TASYAHUD
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Segala penghormatan hanya bagi Allah, begitu pula shalat-shalat (do’a-do’a), serta ucapan-ucapan yang baik. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Rabb yang hak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”[12]

MEMBACA SHALAWAT NABI SETELAH TASYAHUD
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”[13]

DO’A SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih ad-Dajjal.”[14]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Ya Allah, Sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dengan ampunan dari sisimu dan berikanlah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”[15]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka.”[16]

BACAAN SETELAH SALAM [17]
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (ثَلاَثاً)، اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَـا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ
“Aku memohon ampun kepada   Allah“(dibaca tiga kali), “ Ya Allah, Engkau adalah yang memberi keselamatan, dan dari-Mu segala keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan “.[18]

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan serta kemuliaan itu bagi pemiliknya dari siksa-Mu [19]

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
“Tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata. Kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Baginya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, walau orang-orang kafir tidak menyukainya “.[20]

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
(عَشْرَمَرَّاتٍ بَعْدَ صَلَاةِ اْلـمَغْرِبِ وَالصُّبْحِ)
Tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujaan, Dia Menghidupkan dan Mematikan dan Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu”, Dibaca sepuluh kali setelah shalat Maghrib dan Subuh.[21]

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir kepada-Mu, juga bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”[22]

سُبْحَانَ اللَّهِ (33x) اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33x) اَللَّهُ أَكْبَرُ(33x)
“Maha Suci Allah (33x), Segala puji bagi Allah (33x), Allah Maha Besar (33x)

Kemudian untuk melengkapinya menjadi seratus dengan membaca:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu“. [23]

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾لَمْ يَلِدْوَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾ (سورة الإخلاص:4-1)
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾ (سورة الفلق:5-1)
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ ﴿٦﴾ (سورة الناس:6-1)

Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas setiap selesai shalat fardhu’.[24]
اَللَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَالْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَاشَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَاوَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
(سورة البقرة :255)
“Allah, tidak ada Illah (yang berhak disembah), melainkan Dia yang hidup kekal, lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.[25]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً ( بَعْد السَّلاَمِ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ)
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik dan amal yang diterima“. (Diucapkan setelah salam khusus shalat Subuh).[26]


Catatan kaki:
* Dikutip dari buku “Do’a dan Wirid Mengobati Guna-guna dan Sihir Menurut al Qur’an dan as- Sunnah. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit: Pustaka Imam Syafii.
**”Kumpulan Do’a Mustajab dan Dzikir Pilihan berdasarkan al Qur’an dan as-Sunnah”.Syaikh Sa’id bin Ali Wahf al-Qahtani. Penerbit: Darul
Haq.

[2].  Shahih: HR. Bukhari (no.744) Muslim (no. 598 [147]), Ibnu Majah (no. 805), An Nasai (II/129)
dan Abu Dawud (no.781)

[3].   Shahih: HR. Muslim (no. 399 [52]; Ad-Daraquthni (I/628-629, no. 1127-1132) dari Umar bin Al–Khatab RadiyAllohu ‘Anhu, yakni secara mauquf. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ad-Daraquthni (no. 1133) dan Ath-Thabrani dalam ad-Du`a (no. 506) dari Anas RadiyAllohu ‘Anhu secara marfu’. Sanadnya shahih. Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihah (no. 2996), Ashlu
Shifatu Shalaatin Nabi (I/254), dan Irwaa-ul Ghaliil (II/51-53)

[4].  Shahih: HR. Ahmad (V/382, 394) Abu Dawud (no. 871), At Tirmidzi (no. 262), AN
Nasai (II/190) dan Ibnu Majah (no. 888)-lafadz tersebut miliknya. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 333, 334)

[5].   Shahih: HR. Muslim (no. 487), Abu Dawud (no. 872), An-Nasai (II/191) dan Ahmad (VI/35)

[6].   Shahih: HR. Bukhari (no. 795)/Fathul Bari (II/282)

[7].  Shahih: HR. Bukhari (no. 799)/Fathul Bari (II/284)

[8].  Shahih: HR. Ahmad (V/382, 394), Abu Dawud (no. 871), At-Tirmidzi (no. 262), An Nasai (II/190) dan Ibnu Majah (no. 888) Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 333, 334)

[9].  Shahih: HR. Muslim (no. 487). Lihat Syarah Muslim (IV/204-205)

[10]. Shahih: HR. Abu Dawud (no. 874). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 731)

[11]. Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 284), Abu Dawud (no. 850), Ibnu Majah (no. 898). Lihat Shahih
At-Tirmidzi (I/90, no. 233), Shahih Abi Dawud (I/60, no. 756), Shahih Ibnu Majah (I/148, no. 732). Dan dalam Sunan Ibnu Majah menggunakan lafalz رَبِّ. Lihat Shifatu Shalatin
Nabi karya Syaikh Al Albani.

[12]. HR. Bukhari (no. 831, 835, 1202) dan Imam Muslim (no. 402 [55])

[13]. Shahih: HR. Bukhari (no. 3370)/Fathul Baari (VI/408), Muslim (no. 406), Abu Dawud (no. 976, 977, 978), At Tirmidzi (no. 483), An Nasai (III/47-48), Ibnu Majah (no. 904) Ahmad (IV/243-244) dan lain-lain dari Ka’ab bin Ujrah Radiyallohu ‘Anhu.

[14].  Shahih: HR. Muslim (no. 588 [128]) dari Abu Hurairah RadiyAllahu ‘Anhu

[15]. Shahih: HR. Bukhari (no. 834, 6326, 7387, 7388) dan Muslim (no. 2705[48]) dari Abu
Bakar ash-Shiddiq Radiyallohu ‘Anhu

[16].  HR. Abu Dawud dan lihat di Shahih Ibnu Majah (II/328).

[17]    Bacaan ini dibaca setelah selesai shalat wajib lima waktu

[18]. Shahih: Muslim (no. 591[135]), Ahmad (V/275, 279), Abu Dawud (no.1513), An Nasai (III/68), Ibnu Khuzaimah (no. 737) dan Ad Darimi (I/311) serta Ibnu Majah (no. 928) dari Tsauban RadiyaAllahu‘Anhu

[19]. Shahih: HR. Bukhari (no. 844), Muslim (no. 593), Ahmad (IV/245, 247, 250, 254, 255) Abu Dawud (no. 1505), An Nasai (III/70, 71), Ad Darimi (I/311), dan Ibnu Khuzaimah (no. 742) dari al
Mughirah bin Syu`bah Radiyallahu ‘Anhu

[20]. Shahih: HR. Muslim (no. 594), Ahmad (IV/4,5), Abu Dawud (no. 1506, 1507), An Nasai (III/70), dan Ibnu Khuzaimah (no. 740, 741) dari Abdullah bin az-Zubair Radiyallahu ‘Anhu.

[21]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Barang siapa setelah shalat maghrib dan shubuh membaca:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اَللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ(10x)
"Allah akan tulis setiap satu kali 10 kebaikan, dihapuskan 10 keburukan, diangkat 10 derajat,
dilindungi dari berbagai keburukan, dan dicegah dari godaan syaitan yang terkutuk"
Shahih: HR. Ahmad (IV/227) dan Tirmidzi (no. 3474) At Tirmidzi berkata: “Hadits ini
hasan gharib shahih”.  Lihat kitab Shahih al Targhib wa at Tarhib (I/322, 323, no. 474, 475, 477), serta Zaadul Ma’aad (I/300-3001) dan Silsilah al Hadits ash Shahihah (no.
113, 114,  2563)

[22]. Shahih: HR. Abu Dawud (no. 1522) dan An-Nasai (III/53), Ahmad (V/245), dan Al Hakim (I/273, III/273) beliau menshahihkannya, juga disepakati oleh Dzahabi, dan kedudukan
hadits itu seperti yang dikatakan oleh keduanya, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wassalam 
pernah berwasiat kepada Muadz Radiyallahu ‘Anhu agar dia mengucapkannya disetiap akhir shalat

[23]. “Barang siapa yang membaca kalimat ini setiap selesai shalat, akan diampuni kesalahan-kesalahannya meski seperti buih di lautan”
Shahih: HR. Muslim (no. 597), Ahmad (II/371, 483), Ibnu Khuzaimah (no. 750) dan al
Baihaqi (II/187)

[24]. Shahih: HR. Abu Daud (no. 1523), an Nasai (III/68), ibnu Khuzaimah (no. 755) dan al
Hakim (I/253) dari Uqbah bin Amir. Lihat  Shahih at Tirmidzi (III/8 no. 2324), ketiga surat tersebut disebut juga “Al Mu’awwizaat”, lihat Fathul baari (IX/62).

[25].“Barang siapa yang membacanya setiap selesai shalat, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian”.
Shahih: HR. Nasa’i dalam Amalul Yaumi Wal Lailah (no. 100), Ibnu Sunni (no. 124), dari Abu Umamah Radiyallahu ‘Anhu dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, dan Silsilah Ahadits ash-Shahihah (II/697, no. 972).

[26]. Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 925), Lihat Shahih Ibnu Majah (I/152, no. 753), ibnu Sunni
dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 110), Ahmad (VI/322) dan lainnya. Lihat Shahih Ibnu Majah (I/152) dan Majmauz Zawa’id (X/111). 

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar